Filosofi Perempuan dalam Pagar Nusa: Menjaga Keseimbangan Fisik dan Spiritual

pagarnusauinws.or.id – Peran perempuan dalam dunia pencak silat sering kali kurang mendapat sorotan. Di tengah dominasi laki-laki, kehadiran perempuan kerap tersembunyi di balik layar, meski kontribusinya tak kalah besar. Dalam Pagar Nusa, salah satu organisasi …

pagarnusauinws.or.id – Peran perempuan dalam dunia pencak silat sering kali kurang mendapat sorotan. Di tengah dominasi laki-laki, kehadiran perempuan kerap tersembunyi di balik layar, meski kontribusinya tak kalah besar. Dalam Pagar Nusa, salah satu organisasi pencak silat di bawah Nahdlatul Ulama, perempuan memiliki tempat yang istimewa. Hal ini dapat kita lihat dari foto bersejarah yang menampilkan Gus Dur bersama putrinya, berhadapan dengan K.H. Abdullah Ma’sum Jauhari dalam Munas II Pagar Nusa di Jakarta. Foto ini menjadi simbol peran penting perempuan dalam mendampingi perjuangan para tokoh, baik secara langsung maupun melalui doa dan dukungan moral.

Menghancurkan Stigma: Srikandi Pagar Nusa

Perempuan yang bergabung dalam Pagar Nusa tak hanya membuktikan diri mampu menjaga diri, tetapi juga mematahkan stigma bahwa perempuan itu lemah, tidak mandiri, dan terbatas pada peran domestik. Dengan mengikuti latihan pencak silat, mereka membangun ketangguhan fisik sekaligus kekuatan mental. Namun, yang membedakan Pagar Nusa adalah nilai spiritualnya. Dengan menjunjung semboyan “Laa gholiba illa billah” (tidak ada kemenangan kecuali karena Allah), perempuan dalam Pagar Nusa tidak hanya menjadi tangguh secara fisik, tetapi juga tetap kokoh dalam spiritualitas.

Ketangguhan fisik perempuan ini didasari oleh sifat rendah hati dan keikhlasan. Sebagai pesilat, mereka tidak hanya mengejar kekuatan, tetapi juga menjaga marwah sebagai perempuan yang bijaksana. Mereka mengatur keseimbangan antara latihan fisik dan pengembangan spiritual, menjadikan Pagar Nusa sebagai ruang bagi perempuan untuk mengembangkan diri secara utuh.

Tantangan Perempuan dalam Pencak Silat

Meski begitu, perempuan dalam dunia pencak silat masih menghadapi tantangan berat, terutama stigma negatif dari masyarakat. Tidak jarang mereka dicap “pecicilan” atau dianggap menyalahi kodrat hanya karena mengikuti latihan silat. Stigma ini sering kali menjadi hambatan besar bagi perempuan yang ingin bergabung dalam dunia pencak silat, bahkan membuat langkah mereka terhenti di tengah jalan.

Namun, Pagar Nusa terus mendukung perkembangan perempuan sebagai pesilat. Organisasi ini memberikan kesempatan bagi perempuan untuk ikut berlatih, terutama di lingkungan pesantren dan lembaga pendidikan. Tidak hanya berhenti pada pelatihan, perempuan juga didorong untuk berprestasi di bidang keolahragaan dan keatlitan. Dengan dukungan ini, diharapkan perempuan Pagar Nusa juga mampu meraih prestasi di bidang lain, termasuk pendidikan.

Inspirasi dari Perempuan Pagar Nusa

Salah satu sosok perempuan yang menginspirasi saya dalam Pagar Nusa adalah istri dari Abah Hendro Syufa’at, seorang tokoh Pagar Nusa kota Semarang pada masanya. Meski tidak terlibat langsung dalam latihan atau kejuaraan, beliau menunjukkan peran besar sebagai pendukung utama perjuangan suaminya.

Saya masih ingat bagaimana beliau selalu menyambut tamu, termasuk kami sebagai murid Abah, dengan ramah dan senyuman. Bahkan, beliau pernah memasak untuk mendukung pelaksanaan acara kejuaraan yang pada masa itu masih diselenggarakan secara sederhana. Peran perempuan seperti beliau, meskipun sering kali tidak terlihat, sangatlah penting dalam menjaga semangat dan kelancaran perjalanan organisasi seperti Pagar Nusa.

Kesimpulan

Perempuan dalam Pagar Nusa memiliki peran yang mendalam, baik di balik layar maupun di arena latihan. Mereka tidak hanya menjadi pendukung, tetapi juga pelaku aktif yang mampu mengubah stigma negatif menjadi kebanggaan. Dengan kombinasi kekuatan fisik, spiritualitas, dan kebijaksanaan, perempuan dalam Pagar Nusa telah membuktikan bahwa mereka adalah Srikandi yang sejati.

Di tengah tantangan dan stigma, perempuan Pagar Nusa tetap berpegang pada nilai-nilai luhur organisasi, menjadikan diri mereka sebagai inspirasi dan teladan. Peran mereka bukan hanya untuk mendukung, tetapi juga untuk terus membawa Pagar Nusa maju ke depan. Sebab, sejatinya, setiap keberhasilan organisasi besar selalu ada peran perempuan yang mendukung di dalamnya.

Sumber: Wawancara dengan Mba Devi pada Tanggal 25 Januari 2025

Tinggalkan komentar