Jombang — Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menjadi salah satu momentum penting bagi warga Nahdliyin. Muktamar yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, menjadi ruang permusyawaratan sekaligus momentum bagi berbagai elemen NU untuk mengambil bagian dalam sebuah khidmah.
Salah satu elemen yang turut mengambil peran adalah Pagar Nusa. Sebanyak 700 personel Pasukan Inti (PASTI) Pagar Nusa disiagakan untuk mendukung pengamanan pelaksanaan Muktamar ke-35 NU. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan, ketertiban, dan kelancaran seluruh rangkaian kegiatan Muktamar.
Namun, kehadiran Pagar Nusa dalam Muktamar seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang berapa banyak personel yang diturunkan atau seberapa ketat pengamanan dilakukan. Ada pertanyaan yang lebih mendasar:
Apa sebenarnya peran kita sebagai pesilat Pagar Nusa ketika NU sedang melaksanakan Muktamar?
Bukan Sekadar Mengawal
Pagar Nusa dikenal sebagai organisasi pencak silat di lingkungan Nahdlatul Ulama. Kemampuan bela diri menjadi salah satu identitas yang melekat pada seorang pesilat. Akan tetapi, menjadi pesilat Pagar Nusa bukan hanya tentang kemampuan fisik, keberanian, maupun keterampilan bertanding.
Seorang pesilat juga membawa nilai-nilai organisasi, akhlak, kedisiplinan, tanggung jawab, serta semangat pengabdian.
Karena itu, ketika Muktamar NU berlangsung, khidmah Pagar Nusa tidak semestinya dimaknai hanya sebagai tugas pengamanan. Pengamanan memang menjadi salah satu bentuk peran nyata, tetapi ada bentuk khidmah lain yang dapat dilakukan oleh setiap pesilat, bahkan oleh mereka yang tidak berada di lokasi Muktamar.
Pandangan tentang posisi Pagar Nusa sebagai bagian penting dalam perjalanan NU pernah disampaikan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dalam sebuah kesempatan, Gus Dur menyampaikan:
“Alhamdulillah Pagar Nusa sudah terbentuk, ini yang nantinya bisa dititipi NU disaat yang lain tidak bisa. Pagar Nusa inilah jangkarnya NU.”
Ungkapan tersebut memberikan gambaran bahwa keberadaan Pagar Nusa tidak semata-mata diposisikan sebagai organisasi pencak silat, tetapi juga sebagai salah satu kekuatan yang dapat menjadi tempat NU menitipkan amanah ketika dibutuhkan.
Jika dahulu pesan tersebut disampaikan dalam konteks terbentuknya Pagar Nusa, hari ini maknanya dapat kembali direnungkan. Ketika NU memiliki hajat besar seperti Muktamar, apa yang dapat dilakukan oleh para pesilat?
Jawabannya bukan hanya dengan berdiri di barisan pengamanan.
Apa Peran Kita?
Pertanyaan ini penting terutama bagi para kader dan pesilat Pagar Nusa di berbagai daerah.
Tidak semua pesilat memiliki kesempatan untuk hadir langsung di Tambakberas. Tidak semua kader menjadi bagian dari pasukan pengamanan. Namun, bukan berarti mereka tidak memiliki ruang untuk berkhidmah.
Khidmah dapat dimulai dari hal-hal sederhana.
Menjaga nama baik Pagar Nusa di tengah masyarakat adalah khidmah. Menunjukkan sikap santun dan berakhlak sebagai seorang pesilat adalah khidmah. Menjaga persaudaraan antarkader adalah khidmah. Menghindari konflik dan provokasi yang dapat merusak persatuan juga merupakan bentuk tanggung jawab seorang kader.
Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, pesilat Pagar Nusa juga memiliki tanggung jawab untuk menjadi bagian dari masyarakat digital yang sehat. Tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, tidak memperkeruh perbedaan, serta tidak menjadikan momentum Muktamar sebagai ruang untuk saling menyerang adalah bentuk kedewasaan dalam berorganisasi.
Sebab, menjaga marwah organisasi tidak hanya dilakukan ketika mengenakan seragam Pagar Nusa dan berdiri di lokasi kegiatan. Identitas sebagai pesilat melekat dalam sikap dan perilaku kita sehari-hari.
Muktamar sebagai Momentum Belajar
Muktamar juga dapat menjadi momentum bagi kader Pagar Nusa untuk belajar melihat NU secara lebih luas.
NU bukan hanya tentang struktur organisasi, bukan hanya tentang kegiatan keagamaan, dan bukan hanya tentang forum-forum besar. Di dalamnya terdapat banyak elemen yang bekerja sesuai bidang masing-masing untuk memastikan roda organisasi dan pelayanan kepada umat terus berjalan.
Kehadiran Pagar Nusa dalam pengamanan Muktamar menunjukkan bahwa setiap elemen memiliki ruang untuk mengambil peran.
Bagi pesilat, ini menjadi kesempatan untuk kembali memahami bahwa kemampuan yang dimiliki bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi. Kemampuan bela diri, kedisiplinan, keberanian, dan solidaritas dapat diarahkan menjadi kekuatan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat dan organisasi.
Dari Muktamar, Kembali kepada Khidmah
Pada akhirnya, Muktamar akan selesai. Para peserta akan kembali ke daerah masing-masing. Pasukan pengamanan akan kembali menjalankan aktivitasnya. Agenda organisasi pun akan berganti dengan agenda lainnya.
Namun, semangat khidmah seharusnya tidak berhenti ketika Muktamar berakhir.
Justru setelah Muktamar, pertanyaan tersebut kembali kepada kita masing-masing:
- Apa yang sudah kita lakukan untuk Pagar Nusa?
- Apa yang sudah kita lakukan untuk NU?
- Dan yang lebih penting, apa manfaat kehadiran kita sebagai pesilat bagi masyarakat?
Sebab menjadi pesilat Pagar Nusa bukan hanya tentang mampu berdiri paling depan ketika dibutuhkan. Lebih dari itu, seorang pesilat harus mampu menjadi pribadi yang siap hadir ketika masyarakat membutuhkan, menjaga persaudaraan ketika terjadi perbedaan, serta memberikan manfaat di mana pun berada.
Muktamar ke-35 NU akhirnya bukan hanya tentang siapa yang hadir di Tambakberas atau siapa yang bertugas mengawal jalannya kegiatan. Muktamar juga menjadi pengingat bahwa setiap kader memiliki ruang untuk berkhidmah dengan caranya masing-masing.
Karena itu, pertanyaannya bukan lagi sekadar:
“Apakah kita ikut mengawal Muktamar?”
Tetapi:
“Setelah menjadi pesilat Pagar Nusa, apa yang akan kita khidmahkan?”
Sumber
- NU Online → dasar fakta 700 personel, pengamanan, dan makna tiga khidmah yang disampaikan Gus Nabil.
- Pagar Nusa Official → dasar kutipan Gus Dur tentang Pagar Nusa sebagai “jangkarnya NU”.
