BENTENG HIDUP ISLAM NUSANTARA: Peran PSNU Pagar Nusa sebagai Garda Terdepan Pembela Pesantren dan Penjaga Martabat Kebangsaan

Di tengah hiruk pikuk globalisasi dan tantangan ideologi transnasional, institusi tertua pendidikan Islam di Indonesia, Pesantren, seringkali menjadi sasaran stereotip negatif, bahkan dituduh sebagai sarang ekstremisme. Stigma ini tidak hanya menyakitkan, tetapi secara fundamental bertentangan …

Di tengah hiruk pikuk globalisasi dan tantangan ideologi transnasional, institusi tertua pendidikan Islam di Indonesia, Pesantren, seringkali menjadi sasaran stereotip negatif, bahkan dituduh sebagai sarang ekstremisme. Stigma ini tidak hanya menyakitkan, tetapi secara fundamental bertentangan dengan jati diri Pesantren yang sejati. Penelitian akademik justru menunjukkan bahwa Pesantren terutama yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU) adalah benteng terkuat yang memproduksi dan merawat nilai-nilai Moderasi Beragama (Wasathiyyah) di Indonesia. Dalam konteks pertahanan nilai-nilai luhur inilah, Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa hadir sebagai manifestasi fisik dan spiritual dari komitmen Pesantren, menjadikannya garda terdepan dalam membela martabat pesantren, Ulama’, dan kebangsaan.

Pesantren Sebagai Pabrik Moderasi, Bukan Sumber Ekstremisme

Sanggahan terhadap tuduhan ekstremisme bermula dari pemahaman mendalam atas kurikulum Pesantren. Konsep Pesantren Inklusif Berbasis Kearifan Lokal membuktikan bahwa Pesantren secara sadar mempertahankan identitas kulturalnya sambil bersikap terbuka (inklusif) terhadap perkembangan global. Pesantren dituntut untuk mengajarkan prinsip inklusifisme yang diperlukan dalam masyarakat demokratis dan harus mampu menunjukkan watak nir-kekerasannya. Dokumen mengenai konsep ini secara tegas menuntut Pesantren agar mampu menggali kearifan lokal sebagai wacana tandingan (counter discourse) terhadap ideologi kekerasan, memastikan bahwa institusi mereka berjarak dari ekstremisme.

Lebih dari sekadar konsep, efektivitas ini teruji secara empiris. Riset tentang Pendidikan Multikultural di Pesantren Salaf membuktikan bahwa pendidikan yang diterapkan di pesantren-pesantren tradisional di Jawa efektif mencegah tumbuh dan berkembangnya radikalisme agama. Pesantren Salaf dipandang sebagai pewaris sah tradisi Walisongo yang menjunjung tinggi toleransi (Tasamuh) dan persaudaraan (Ukhuwah) dalam dakwahnya. Dengan menanamkan nilai-nilai inti multikulturalisme melalui Kitab Kuning dan keteladanan (Uswah Hasanah) dari Kiai, santri diarahkan untuk memiliki pemikiran yang moderat, sehingga stigma “ekstremis” secara otomatis gugur di hadapan fakta ini.

PSNU Pagar Nusa: Benteng Hidup Pelindung Spiritual

Pagar Nusa didirikan atas keprihatinan para Kiai terhadap surutnya tradisi bela diri yang etis dan berbasis spiritual di lingkungan pesantren. Organisasi ini lahir membawa mandat suci: menjadi “pagar” yang secara fisik, mental, dan spiritual melindungi Ulama’ dan Kiai (Warasatul Anbiya’). Peran Pagar Nusa adalah manifestasi tertinggi dari prinsip ketaatan (Ta’dzim) dan pengabdian (Khidmah) seorang murid kepada guru. Ketika Ulama’ dibela, sejatinya yang sedang dijaga adalah sumber sanad ilmu yang mengajarkan Islam moderat di Indonesia. Oleh karena itu, Pagar Nusa bertindak sebagai benteng hidup yang menjaga martabat spiritual dan keilmuan Pesantren dari segala bentuk ancaman.

Peran ini diperkuat oleh statusnya sebagai badan otonom NU. Pagar Nusa secara resmi mendedikasikan diri untuk mewujudkan masyarakat yang moderat dan melawan radikalisme. Hal ini tertuang jelas dalam penekanan pada prinsip-prinsip moderasi beragama yang menjadi dasar aktivitas mereka, yaitu: Tawasuth (Jalan Tengah) yang menolak ekstremisme, I’tidal (Keadilan), Tasamuh (Toleransi), dan Keseimbangan (Tawazun). Filosofi inilah yang membedakan Pagar Nusa; kekuatan fisik mereka diarahkan semata-mata untuk menegakkan kebaikan dan melawan kemungkaran, bukan untuk kekerasan.

Dakwah bil Hal: Mengubah Konflik Menjadi Persaudaraan

Pagar Nusa menginternalisasi nilai-nilai keislaman dan etika bela diri melalui konsep Dakwah bil Hal, yaitu berdakwah melalui tindakan nyata dan keteladanan. Praktik ini menjadi sangat penting dalam konteks membela pesantren di masyarakat multikultural, terutama saat menghadapi konflik internal.

Di lapangan, Pagar Nusa menunjukkan komitmennya melalui penerapan sembilan jurus dasar yang berfungsi sebagai fondasi gerakan sekaligus cerminan nilai filosofis dan moral yang mendalam. Jurus-jurus tersebut tidak hanya melatih fisik, tetapi menanamkan spiritualitas dan etika ksatria. Selain itu, pesilat diajarkan untuk memiliki kerendahan hati (tawadhu’) dan pengendalian diri, yang sejalan dengan moto utama mereka: Laa ghaaliba illa billah (Tidak ada yang menang kecuali dengan pertolongan Allah). Keyakinan ini memastikan bahwa kekuatan fisik Pagar Nusa hanya digunakan untuk kepentingan mulia, menolak arogansi, dan menghindari kekerasan yang tidak perlu.

Sebuah contoh nyata Dakwah bil Hal adalah upaya Pagar Nusa untuk meredam konflik. Tergerak oleh maraknya tawuran antarperguruan silat, Pagar Nusa mengambil peran aktif dalam mencegah eskalasi konflik di tingkat akar rumput. Mereka tidak hanya melatih bela diri, tetapi juga mempromosikan Persatuan dalam Keberagamaan dan menanamkan prinsip Islam Rahmatan lil ‘Alamin membuktikan bahwa kekuatan yang mereka miliki digunakan untuk membangun persaudaraan (Ukhuwah), bukan memicu perpecahan.

Kesimpulan: Ksatria Penjaga Jati Diri Bangsa

PSNU Pagar Nusa adalah Ksatria Penjaga Jati Diri Bangsa yang bergerak di bawah naungan nilai-nilai Pesantren. Mereka merupakan sintesis sempurna antara budaya asli Nusantara (Pencak Silat) dan ajaran Islam yang moderat (NU). Kehadiran Pagar Nusa tidak hanya menjamin keamanan fisik Ulama’ dan Pesantren, tetapi juga menjaga stabilitas ideologi Islam di Indonesia dari ancaman ekstremisme. Dengan tegaknya Pagar Nusa, Pesantren dapat terus menjalankan perannya sebagai lembaga pendidikan yang menghasilkan generasi berakhlak mulia, toleran, dan setia pada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Membela pesantren berarti membela Pagar Nusa, dan membela Pagar Nusa adalah memastikan bahwa nilai-nilai Moderasi Beragama akan terus menjadi pilar utama peradaban Indonesia.

Sumber :

Buku:

Ma’arif, S. (2015). Pesantren inklusif berbasis kearifan lokal. Kaukaba.

Jurnal:

Marzuki, M., Miftahuddin, M., & Murdiono, M. (2020). Multicultural education in salaf pesantren and prevention of religious radicalism in Indonesia. Jurnal Cakrawala Pendidikan39(1), 12-25.

Muliadi, M., Gojali, M., Wasik, A., & Maulani, M. (2023). Pagar Nusa Endeavors to Knitting Towards a Moderate Society. Al-Hayat: Journal of Islamic Education7(2), 389-400.

Sungkawaningrum, F., & Baehaqi, M. (2025). Dakwah bil Hal Pesilat Pagar Nusa di Temanggung. Dakwatuna: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam11(1), 80-88.

Tinggalkan komentar